Usia
remaja merupakan usia pengenalan jati diri, ingin mendapat pengakuan,
ingin di perhatikan dll. Para remaja sekarang ini umumnya memiliki rasa
keingintahuan yang sangat besar, ingin coba-coba dan suka sekali meniru
gaya dan tindakan yang pernah dilihatnya.
Begitu juga dalam hal cara berbusana,
kalangan remaja tidak mau ketinggalan dengan gaya-gaya trend terbaru
saat ini. Ia cenderung untuk terus mengupdate gaya fashionnya.
Ironisnya, model fashion yang mereka favoritkan tidak sesuai dengan
yang diharapkan oleh Islam.
Sebagian dari pemuda kita lebih senang
dan merasa ‘cool’ -katanya- ketika mengenakan jenis fashion dari
negara-negara luar Islam. Seperti yang trend saat ini adalah baju korea.
Tidak hanya itu, mereka juga beranggapan bahwa mengenakan pakaian
Islami tidak gaul dan terkesan membuat mereka ribet dan tidak nyaman.
Persepsi ini perlu diluruskan, karena sesungguhnya kalau kita mau
menelaah jenis fashion yang dikenakan oleh Nabi sudah sangat cukup
dijadikan sebagai tuntunan bagi para remaja khususnya dan semua kalangan
umumnya.
Dalam salah satu riwayat dari Ibnu Abbas
dijelaskan bahwa Rasulullah saw. terkadang mengenakan baju yang pendek
lengannya, terkadang mengenakan baju yang panjang lengannya. (Hr, Ibnu
Majah)
Dari hadits di atas mengilustrasikan
bahwa kadang kala Nabi mengenakan pakaian lengan pendek dan di lain
kesempatan beliau mengenakan pakaian lengan panjang. Dua jenis pakaian
ini beliau gunakan sesuai dengan tempat dan kondisinya. Pakaian lengan
panjang beliau kenakan pada saat musyawaroh bersama sahabat-sahabatnya,
atau ketika harus tampil di depan guna menyampaiakan khutbah, ceramah,
dan beberapa kegiatan lain yang terkesan formal atau semi formal. Beliau
merasa, jika dalam kondisi yang demikian tidak mengenakan pakaian
lengan panjang terkesan tidak sopan. Sementara pakaian lengan pendek
beliau pakai pada saat keadaan santai, bercengkrama dengan para istrinya
dan ketika cuaca sangat panas.
Dari dua jenis model pakaian tersebut,
tidak ada yang lebih Nabi utamakan. Sebab dua model ini sama-sama Nabi
gunakan. Hanya saja yang perlu kita ketahui bahwa Nabi bisa memposisikan
dua jenis pakainnya itu sesuai tempatnya, sehingga walaupun Nabi tidak
banyak memiliki pakaian, beliau selalu tampil rapi, serasi dan patut.
Keternagan ini memberikan pelajaran kepada kita, di dalam mengenakan
pakaian tidak boleh asal pakai tetapi harus disesuaikan dengan tempat
dan kondisinya.
Pelajaran lain yang dapat dipetik dari
hadits di atas adalah Nabi ingin menunjukkan kepada para umatnya bahwa
Islam juga mengenal mode pakaian. Di dalam Islam tidak hanya satu model
pakaian, justeru sebaliknya. Banyak ragam di sana. Maka setiap orang
berhak menuangkan kreasi dan inovasinya dalam mode pakaian. Tidak hanya
itu, motif dan corak pakaianpun tidak diatur secara tegas dalam Islam.
Itu artinya Islam telah memberikan keloggoran kepada penganutnya untuk
mendinamisasikan jenis pakaian agar tidak monoton, nyaman dipakai dan
enak dipandang mata, dengan syarat tetap menutup aurat.
Hal ini sebenarnya tidak hanya berlaku
bagi kaum laki-laki, akan tetapi berlaku juga bagi kaum perempuan.
Tentang model, corak, dan motif islam memberikan sepenuhnya kepada
pemeluknya. Tidak ada aturan yang tegas dalam jenis jilbab tertentu yang
harus dikenakan oleh seorang perempuan. Ini merupakan lahan basah bagi
mereka untuk mengerahakan semua bentuk kekreatifitasnya dalam desain
pakaian, agar tidak senantiasa mengekor pada dunia barat.
Sebagai kesimpulan, anggapan bahwa
dengan berpakain Islami seseorang merasa terbebani untuk bergaya itu
perlu di telaah kembali, karena islam telah memberikan sepenuhnya kepada
penganutnya untuk mengenakan pakaian jenis apa saja asal menutup aurat.
- See more at: http://cyberdakwah.com/2013/11/fashion-remaja-perspektif-nabi/#sthash.yqOordoa.dpuf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar